Hakikat manusia
A. KEDUDUKAN MANUSIA DI ALAM RAYA
Manusia diberi kelebihan oleh Tuhan dibanding dengan makhluk yang lainnya. Kelebihan itu baik pada bentuk jasmani, maupun pada struktur rohaninya. Struktur jasmani yang terdiri dari beberapa panca indera dapatberguna menerima pengetahuan dan menjadilah yang disebut pengetahuanempiris. Positivisme juga lahir dari pengetahuan empiris. Panca indera terdiri dari mata, telinga, hidung, kulit dan alat pengecap juga makhluk lain dimilikinya, tetapi tidak dapat menangkap pengetahuan melalui panca inderanya, hanya manusia yang dapat menangkap pengetahuan empiris. Sedangkan struktur rohaninya lebih menakjubkan lagi, Karena memiliki daya yakni daya rohani, daya kalbu, daya akal dan daya hidup.
Karakteristik manusia, telah jelas bahwa manusia adalah mahluk yang paling sempurna diantara mahluk lainnya. Manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan naluri-nalurinya, baik yang bersifat biologis maupun yang bersifat spiritual. Sehingga manusia bisa mengangkat derjatnya dari mahluk yang lain. Tuhan menciptakan manusia bukan tanpa rencana, dari segi hubungannya dengan tuhan, manusia berkedudukan sebagai hamba (makhluk) dan kedudukan manusia dalam konteks makhluk tuhan adalah makhluk yang terbaik.
Manusia sebagai makhluk yang paling mulia diberi potensi untuk mengembangkan diri dan kemanusiaannya. Potensi-potensi tersebut merupakan modal dasar bagi manusia dalam menjalankan berbagai fungsi dan tanggungjawab kemunusiaannya. Agar potensi-potensi itu menjadi aktual dalam kehidupan perlu dikembangkan dan digiring pada penyempurnaan-penyempurnaan melalui upaya pendidikan, karena itu diperlukan penciptaan arah bangun pendidikan yang menjadikan manusia layak untuk mengembang misi Ilahi. Beribadah berarti mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan duniawi sehari-hari, jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap batin serta niatpengabdian dan penghambaan diri kepada Tuhan, yakni sebagai tindakanbermoral yakni untuk menempuh hidup dengan kesabaran penuh bahwa makna dan tujuan keberadaan manusia ialah “perkenan” atau Tuhan.
B. MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK YANG BERAKAL
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling mulia diantara ciptaanNya yang lain. Hal ini dikarenakan mereka dianugerahi akal oleh Allah SWT. Inilah yang membedakan antara manusia dan hewan. Walaupun sama-sama memerlukan makanan, tempat tinggal, hubungan biologis dan sebagainya. Namun, manusia menggunakan akal mereka dalam memenuhi segala kebutuhannya.
Dalam agama Islam disebutkan bahwasanya Islam adalah agama yang mengajarakan umatnya untuk selalu menggunakan akal mereka dalam hal apapun. Rasulullah Saw mengajarkan dan menyeru kepada umatnya dan semua manusia agar menggunakan akal mereka dalam setiap hal sehingga apa yang di ajarkan oleh Rasulullah Saw agar mudah dicerna dan dipahami dengan baik.
Dalam suatu keterangan disebutkan bahwa Rasulullah Saw melarang manusia menerima ajaran beliau secara membuta tuli. Hal ini digaris bawahi sebagai larangan Rasulullah berpura-pura hilang akal atau seperti orang yang tidak mempunyai akal.
Dalam suatu hadist disabdakan, “Aku diperintahkan berbicara dengan manusia berdasarkan akal mereka.”1
Bagaimana caranya manusia bisa mendapatkan ilmu pengetahuan? Jawabannya tidak akan salah lagi, bahwa dapat memperoleh ilmu pengetahuan karena manusia memiliki akal untuk mereka manfaatkan dan digunakan menuntut ilmu. Dijelaskan bahwa Islam adalah Agama Akal, maka dengan akal itu pula Islam mengajarkan agar manusia mempunyai ilmu pengetahuan.
C. PROSES LAHIRNYA POLA PIKIR MANUSIA
Setiap manusia pasti memiliki pola pikir dan cara pandang tentang segala hal, karena pada setiap manusia dilengkapi dengan akal. Pola pikir membentuk kepribadian yang sangat unik dalam hidup manusia. hal ini terutama terlihat dalam pola kita menentukan cita-cita, impian dan tujuan hidup. Proses pembentukan kerangka berpikir dimulai sejak bayi dalam kandungan. Dengan bertambahnya usia bertambah pula informasi yang masuk ke dalam pikiran. Berapa banyak informasi yang masuk ke dalam pikiran ketika seseorang sudah remaja, pemuda, dewasa, dan ketika sudah tua kita tidak tahu. Informasi yang masuk ke dalam pikiran pun beragam, mulai dari pengalaman diasuh oleh ibu, dididik orang tua, dididik oleh guru di taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah, dan kampus. Bukan hanya itu saja, masih ada pengalaman-pengalaman unik dalam hidup kita seperti rasa cinta, kerugian , atau kecelakaan. Secara tidak langsung pengalaman – pengalaman kita membentuk pola pikir kita.
Pola pikir itu sendiri dapat timbul dengan sendirinya ketika manusia itu terbentur oleh suatu permasalahan yang akhirnya menyebabkan terbentuk karakternya oleh permasalahannya itu sendiri. Sehingga manusia itu memiliki langkah atau antisipasi yang bermacam – macam dalam menyikapi setiap permasalahan tersebut yang akan terekam sebagai suatu pengalaman.2
Informasi yang masuk ke dalam pikiran membentuk ragam pola dalam pikiran. Besarnya pola tergantung dari berapa sering informasi masuk ke dalam pikiran dan berapa dalam kesan yang
1 H.R Bukhori dan Muslim
2 Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.
diberikannya. Semakin sering atau semakin berkesan sebuah informasi semakin kuat pola pikir yang dibentuk.
Kuat atau besarnya pola pikir kita akan berpengaruh terhadap informasi-informasi yang datang di kemudian hari. akan ada informasi yang ditolak dan diterima dan ini tergantung dari pola yang dominan dalam pikiran kita. Pola yang dominan inilah salah satu penyebab utama mengapa muncul perbedaan pendapat atau perdebatan dalam percakapan, diskusi atau rapat.
Pandangan – pandangan hidup pada dasarnya terbentuk oleh beberapa faktor yang sangat dominan mempengaruhi manusia, antara lain :
1. Cita–cita
2. Pengalaman
3. Pendidikikan
4. Pergaulan
5. Keempat faktor tersebut merupakan faktor yang membentuk dan mempengaruhi pola pikir, kedewasaan dan pandangan hidup seseorang.3
D. TAHAPAN PEMIKIRAN MANUSIA
Berbicara mengenai tahap pemikiran manusia maka tak akan lepas dari teori hukum tiga tahap yang dicetuskan oleh Auguste Comte. Comte mengembangkan pandangan ilmiahnya mengenai “positivism”, atau filsafat positif. Positivism hanya membatasi diri pada apa yang tampak, segala gejala. Dengan demikian positivisme mengesampingkan metafisika karena metafisika bukan sesuatu yang real, yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan tidak dapat dibuktikan.Teori Hukum Tiga Tahap / Tahap Pemikiran Manusia
Teori ini menyatakan bahwa terdapat tiga tahap intelektual yang dijalani dunia ini sepanjang sejarahnya.
1. Tahap Teologis
Tahap ini menjadi ciri dunia sebelum tahun 1300. Selama masa itu, system ide utama dititikberatkan pada kepercayaan bahwa kekuatan supranatural, Secara khusus dunia sosial dan fisik dipandang sebagai dua hal yang dibuat Tuhan yaitu Allah SWR. Intinya pada tahap Teologis ini seseorang mengarahkan rohnya pada hakikat batiniah segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terakhir segala sesuatu, kepada sebab pertama, dan tujuan terakhir segala sesuatu. pada tahap ini, manusia berkeyakinan bahwa setiap benda-benda merupakan ungkapan dari supernaturalisme. Tahap ini bias disebut sebagai tahap kekanak-kanakan dimana manusia tidak mempunyai daya kritis sama
3 Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.
sekali.
2. Tahap Metafisik
Berlangsung antara tahun 1300 sampai dengan 1800. Era ini dicirikan oleh kepercayaan bahwa kekuatan abstrak seperti “alam”, dapat menjelaskan segalanya. Tahap metafisik sebenarnya hanya mewujudkan suatu perubahan saja dari zaman teologik, karena ketika zaman teologik manusia hanya mempercayai suatu doktrin tanpa mempertanyakannya, hanya doktrin yang dipercayai. Dan ketika manusia mencapai tahap metafisika ia mulai mempertanyaan dan mencoba mencari bukti-bukti yang meyakinkannya tentang sesuatu dibalik fisik. Ini adalah tahap peralihan dimana alam berpikir manusia sudah menanyakan tentang fenomena-fenomena yang ada di sekitar dirinya.
3. Tahap Positif
Tahap ini yang diperkirakan terjadi pada tahun 1800 dan seterusnya, merupakan tahap pamungkas dari hukum tiga tahap, atau bias disebut tahap final. Tahap positif berusaha untuk menemukan hubungan seragam dalam gejala. Pada zaman ini seseorang tahu bahwa tiada gunanya untuk mempertanyakan pengetahuan yang mutlak, baik secara teologis ataupun secara metafisika. Orang tidak mau lagi menemukan asal muasal dan tujuan akhir alam semesta, atau melacak hakikat yang sejati dari segala sesuatu dan dibalik sesuatu. Pada zaman ini orang berusaha untuk menemukan hukum segala sesuatu dengan berbagi eksperimen yang akhirnya menghasilan fakta-fakta ilmiah, terbukti dan dapat dipertanggung jawabkan (secara empiris) .
Jelas bahwa dalam teorinya, Comte memfokuskan perhatian pada factor intelektual. Perlu dicatat bahwa proses ini adalah proses yang berjalan secara evolusioner, tidak perlu mendorong terjadinya gangguan sosial dan revolusi.4
E. ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia, di samping seni dan agama. Pengetahuan merupakan sumber jawaban atas berbagai pertanyaan yang muncul dalam kehidupan. Maka perlu diketahui terhadap pengetahuan mana suatu pertanyaan tertentu harus diajukan. Jika orang bertanya : “Apakah yang akan terjadi setelah manusia meninggal?”, maka pertanyaan itu tidak dapat diajukan kepada ilmu, melainkan kepada agama. Sebab, secara ontologis ilmu membatasi diri pada pengkajian obyek yang berada dalam lingkup pengalaman manusia. Sedang agama memasuki pula wilayah penjelajahan yang bersifat transendental yang berada di luar pengalaman manusia. Sehingga setiap jenis pengetahuan memiliki ciri-ciri yang spesifik tentang “apa, bagaimana dan untuk apa” (ontologi, epistemologi dan aksiologi), ketiga hal ini saling berkaitan.
4 http://www.psikologizone.com
Fundamen dalam pemikiran Islam bahwa Allah berkuasa atas segala sesuatu, termasuk pengetahuan yakni bersumber dari Allah. Sehingga tujuan pengetahuan itu tidak lain adalah kesadaran tentang Allah. Al-Qur’an, wahyu Allah menyatakan dalam sebuah cerita, bahwa awal penciptaan Adam, Allah mengajarkan kepadanya tentang nama benda-benda. Adam sebenarnya merupakan simbol manusia, dan “nama benda-benda” berarti unsur-unsur pengetahuan, baik yang materi ataupun non- materi. Demikian juga wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw mengandung perintah “Bacalah dengan nama Allah”. Perintah ini mewajibkan orang untuk membaca, yakni pengetahuan harus dicari dan diperoleh demi Allah. Ini berarti wawasan tentang Allah Yang Maha Suci merupakan fundamen hakiki bagi pengetahuan.
Keyakinan bahwa al-Qur’an, wahyu Allah sebagai sumber utama bagi pengetahuan lebih komprehensif daripada lainnya. Jika sumber yang lain hanya mengakui secara parsial, tidak demikian bagi al-Qur’an. Al-Qur’an mengakui sumber rasional-deduktif, telah banyak disebutkannya. Seperti “afala ta’qilun”, “afala tubsirun”, dan sebagainya. Al-Qur’an juga mengakui empirisme-induktif, banyak disebutkannya. Seperti penciptaan unta, langit, gunung dan bumi, penciptaan tumbuh- tumbuhan, perintah memperhatikan apa-apa yang ada di langit dan bumi, dan sebagainya. Demikian juga sumber intuisi dan sebangsanya dapat diraih melalui penyucian hati. Para ilmuwan Muslim menekankan perlunya tazkiyah al-nafs untuk memperoleh hidayah Allah, karena sadar atas kebenaran firman-Nya. Kecuali itu, dalam Islam terdapat apa yang disebut ‘ilm al-laduni dan hikmah, yaitu pengetahuan kerohanian dan kebijaksanaan yang diperoleh melalui kontinuitas perbuatan yang saleh. Seperti latihan-latihan yang dipraktekkan para sufi, sehingga mampu menangkap komunikasi dari alam ghaib dan transendental serta selalu dibawah bayangan Yang Qudus.
REFERENSI
Wahyudi, I Wayan, dan A.A Komang Suardana. 2019. Ilmu Alamiah Dasar. Denpasar: UNHI Press.
C. A. Qadir, Filsafat dan Ilmu Pengetahuan dalam Islam, terj. Hasan Basri, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1989.
Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. II, Jakarta: Sinar Harapan, 1985.
http://www.psikologizone.com http://www.membuatblog.web.id http://filsafat.kompasiana.com http://id.wikipedia.org
Komentar
Posting Komentar